Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi
tiga kategori: tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Macapat
digolongkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan,
sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna,
namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan
antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga
bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.
Ada beberapa jenis tembang macapat. masing-masing jenis
tembang tersebut memiliki aturan berupa guru lagu dan guru wilangan
masing-masing yang berbeda-beda. Yang paling dikenal umum ada 11 jenis tembang
macapat. Yaitu, Pucung, Megatruh, Pangkur, Dangdanggula, dll. Lebih lengkap nya
sebagai berikut,
1. Pangkur berasal dari nama punggawa dalam
kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno.
Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberiarti buntut atau ekor. Oleh karena itu
Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor
dan tut wuntat berarti mengikuti.
2.
Maskumambang berasal dari kata mas dan
kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis.
Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan
Ambang. Kambangselain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang.
Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung.
Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan
upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai
sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang
berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau
ikan berenang.
3.
Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu
perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain
menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak
muada zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut
yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga
kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
4.
Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana.
Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti
api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot
mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu
Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh,
berarti suka memberi.
5.
Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja
Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat
Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna
menanti-nanti kebaikan.
6.
Durma dari kata jawa klasik yang berarti
harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan
dalam suasana seram.
7.
Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada
hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang
juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga
tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
8.
Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat
atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa
digunakan dalam suasana mesra dan senang.
9.
Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama
tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa
diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
10.
Pucung adalah nama biji kepayang, yang dalam
bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti
kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar. Ucapan
cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang
menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung
berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
11.
Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh.
Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat
Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba
jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal.
Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan
ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugs yang ahli dalam
kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.
Tabel Macapat
Metrum
|
Gatra
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
VII
|
VIII
|
IX
|
X
|
Tembang cilik / Sekar alit
|
|||||||||||
Dhandhanggula
|
10
|
10i
|
10a
|
8é
|
7u
|
9i
|
7a
|
6u
|
8a
|
12i
|
7a
|
Maskumambang
|
4
|
12i
|
6a
|
8i
|
8a
|
||||||
Sinom
|
9
|
8a
|
8i
|
8a
|
8i
|
7i
|
8u
|
7a
|
8i
|
12a
|
|
Kinanthi
|
6
|
8u
|
8i
|
8a
|
8i
|
8a
|
8i
|
||||
Asmarandana
|
7
|
8i
|
8i
|
8é
|
8a
|
7a
|
8u
|
8a
|
|||
Durma
|
7
|
12a
|
7i
|
6a
|
7a
|
8i
|
5a
|
7i
|
|||
Pangkur
|
7
|
8a
|
11i
|
8u
|
7a
|
12u
|
8a
|
8i
|
|||
Mijil
|
6
|
10i
|
6o
|
10é
|
10i
|
6i
|
6u
|
||||
Pocung
|
4
|
12u
|
6a
|
8i
|
12a
|
||||||
Tembang tengahan / Sekar madya
|
|||||||||||
Jurudhemung
|
7
|
8a
|
8u
|
8u
|
8a
|
8u
|
8a
|
8u
|
|||
Wirangrong
|
6
|
8i
|
8o
|
10u
|
6i
|
7a
|
8a
|
||||
Balabak
|
6
|
12a
|
3é
|
12a
|
3é
|
12u
|
3é
|
||||
Gambuh
|
5
|
7u
|
10u
|
12i
|
8u
|
8o
|
|||||
Megatruh
|
5
|
12u
|
8i
|
8u
|
8i
|
8o
|
|||||
Tembang gedhé / Sekar ageng
|
|||||||||||
Girisa
|
8
|
8a
|
8a
|
8a
|
8a
|
8a
|
8a
|
8a
|
8a
|
||